Pagi itu ku rasakan tubuh ini lemas. Tidur ku di malam yang sibuk membuat raga ini terasa tidak kembali. Perasaan ku tidak salah. Ku siapkan semua peralatan yang ada. Kali ini aku tak mau jadi sia-sia..
Persembahan untuknya biarlah jadi ingatan yang membekas. Aku mau itu. Semuanya sudah ku sisipkan dalam tanggal merah dan jam kosong miliknya. Menjadi sebuah jadwal yang tak mungkin salah. Tak mungkin salah.
Temanku berkata,
"Apa yang kurang ?"
"Belum.. atau mungkin tidak ada.."
Hingga persidangan pun datang.
Semuanya berjalan lancar. Tepat. Sebelumnya aku, sebagai pemberi ide mencanangkan agar dirinya tidak menjadi yang pertama. Semua setuju. Hingga mereka memulai acara itu.. Tanpa aku.
Aku disini.. Melihatnya pun tidak. Berseragam putih tanpa jas. Terbaring dalam doa. Hanya membayangkan, meriahnya acara itu tanpa aku. Dengan merasakan sesak nya dada. Berharap dia tetap berdetak untukku.
Detak - detik acara itu terasa meriah sekali. Dengan waktu spesial dan tempat yang spesial untuknya. Aku yang seharusnya berada disana. Mengucap kata tulus dan bersih dari hati ku yang tulus untuknya.. disini aku hanya berbaring, menggenggam dadaku. Merasakan detik nya rasa sakit. Menahan semua asa dalam doa. Ku putuskan untuk membuat pesan kecil dengan tinta hitam di atas kertas undangan yang ku buat sendiri. Menuliskan pesan indah terakhir untuk nya. Kapan ia membacanya ? Mungkin esok hari. Ketika tubuhku terbaring dalam derai nya air mata.
Untukmu dari ku.. bukan dari nya ..
"Maafkan aku, atas semua kesalahan yang pernah ku perbuat dulu..
Aku tahu.. aku yang salah.."
-Janganlah menunggu untuk saat-saat yang spesial, lakukanlah itu.. Selagi bisa..-
Say it with heart.. do it because Allah swt...